Kamis, 12 November 2009
121109
Allah telah mengantarkanku hingga sore ini, meski kita selalu
mengalah pada gedjolak hawa nafsu.
"lampah beunteur kuurang ulah ditiru, odoh baranghakan
cacing ngarengkol dicapluk, teunyahoeun aya useupan"
pupuh mijil
kubuka lagi catatan-catatan lama, ternyata banyak sekali yang sudah
kulalui. dan banyak pula yang tidak senpat kutuliskan.
seperti biasanya, hingga hari ini aku benci yang namanya kemunafikan.
apalagi yang melakukannya mengaku seorang pemimpin.
bersambung..
Rabu, 03 Juni 2009
Selasa, 02 Juni 2009
kulihat kematian

Hari ini banyak sekali kulihat kematian, mulai dari kisah cinta yang berakhir dengan kematian, hingga kemtian yang disebabkan ambisi dan hawa nafsu. Semua kematian itu selalu meninggalkan cerita, ada yang menyisakan kisah indah hingga kematian itu hanya menyisakan dendam. Atau kita pernah tahu bahwa kematian itu tidak berarti apa-apa.
Waktu ,
Setiap langkah kita merupakan pilihan dan keputusan, melakukan pilihan dan menetapkan keputusan itu saja. Hingga apa yang kita lakukan merupakan sebuah perubahan, itupun jika kita tidak terjebak pada hal-hal yang melenakan kita atas waktu.
Manusia diberikan modal oleh Allah waktu sebanyak 24 jam, selam 24 jam itu ada yang digunakan untuk melakukan banyak hal, ada pula yang melakukan beberapa hal saja lalu yang paling tragis adalah selama 24 jam itu dia tidak melakukan apapun.
Tuhan,
Mengapa kau ciptakan dunia yang begitu melenakan ..,
Tidak tentu tujuan dan arah yang harus ku tempuh..,
Tuhan ,
Mengapa kau menciptakan kematian
Apakah kematian adalah akhir dari segalanya
Ataukah kematian itu sebenarnya adalah awal..,
Cinta,
Cinta apakah yang hakiki,
Cinta pada kekasih , atau cinta kepada materi,
Cinta kepada Ilahi rabbi
Begitulah adanya , hingga kalbu kita dibuka
Dan frekuensinya dibuka..,
Bandung , 22/05/2009
05.30
tidak ada salahnya bicara cinta
Tidak ada salahnya mengekspresikan kekuatan cinta yang ada di dalam hati sebatas itu tidak mengganggu organ tubuh lainnya. Cinta bukanlah sesuatu yang harus dibayar dengan nafsu birahi. Namun cinta merupakan kekuatan positif yang akan menggerakan seluruh sendi tubuh kita. Cinta kepada diri sendiri, cinta kepada karib kerabat, sahabat, alam dan lingkungan, istri dan keturunan hingga cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah. Itulah muara dari semua ekspresi cinta. Karena Allah swt menurunkan adam di muka bumi ini dengan penuh cinta.
Tidak ada salahnya seorang pria (kalo laki-laki identik dengan be A man acaranya wanita jadi-jadian) mengungkapkan isi hatinya kepada seorang wanita (bukan bencong tentunya). Apapun respon wanita dimaksud yang jelas apa yang kita ungkapkan itu disampaikan dengan sopan dan menghargai wanita itu.
Wanita bukanlah mahluk lemah yang selalu identik dengan kasta dibawah pria (belum mau menulis lelaki) justru jika disadari, satu sama lain merasa nyaman aman dan cocok akan menjadi team yang solid. Team yang akan menghadapi tantangan yaitu kehidupan. Dalam mahligai rumah tangga yang dibangun dengan pondasi keimanan dan tanggung jawab terhadap kehidupan maka kedua mempelai itu akan menjadi sebuah kekuatan. Kekuatan yang akan menghantarkan jiwa kita hingga dipanggil kehadiratNya.
Milenium baru, abad globalisasi dan sebutan-sebutan lainnya, telah mendegradasi kita sebagai manusia. Ya apakah kita sudah paham akan hakikat manusia. Ataukah manusia dimuka bumi ini hanya sekedar untuk mencari makan , beranak pinak, berkelompok; apakah seperti itu?
Atau di jaman serba serbi ini, dimana uang menjadi berhala yang kuat. Hubungan dengan sesama jenis dipandang sebagai sesuatu yang cukup bisa dibeli. Dengan uang tentunya. Dan tidak ada cinta tentunya.
Sementara aku pernah melihat video proses melahirkan, seorang ibu yang dengan gigih memperjuangkan janinnya agar selamat di dunia ini, peluh seorang ayah yang menaruh harapan terhadap penerusnya. Dan tentunya tangis sang bayi memecah hingga ke sangkakala. Ada sekedar perasaan bahwa seorang wanita tidaklah layak sebagai objek pelampiasan hawa nafsu saja. Aku pada saat itu merasa bahwa istriku nanti harus mendapatkan sesungguhnya cinta.
Tulisan ini mengupas cinta , tanpa referensi teori, wawancara dan sebagainya. Hanya mengalir begitu saja . biar juga disebut mellow namun adakalanya kita harus berbicara tentang cinta.
Sukajadi, 24/5/09|22.47
Sejahterakan Kehidupan Guru Honorer TK Aisyiyah
Bandung, MAARIF Institut. Kesejahteraan guru merupakan salah satu indikator berhasil tidaknya sebuah penyelenggaraan pendidikan. Setidaknya inilah yang dirasakan oleh beberapa guru TK Aisyiyah di sekitar wilayah kota Bandung. Pada 6 Mei 2009 yang lalu, sekumpulan guru TK Aisyiyah di wilayah kota Bandung giat melakukan diskusi yang bertujuan menuntut peningkatan kesejahteraan bagi mereka. Mereka terbilang sebagai para guru bantu swasta, dengan honor dan insentif yang sangat minim.
Diskusi komunitas guru Aisyiyah ini difasilitasi oleh para fasilitator dari Maarif Institut. Adi Firmansyah, salah seorang di antaranya menyatakan, "..kami berusaha menghimpun para guru TK ini guna mendengar keluh kesah yang mereka rasakan, terutama berkaitan dengan kesejahteraan yang tiada kunjung mereka terima."
Kesejahteraan guru menjadi salah satu isu utama yang harus dipecahkan. Para guru yang tergabung dalam ikatan guru TK Aisyiyah ini merasa mendapatkan tempat untuk menyalurkan keluhan dan kegelisahan yang mereka hadapi.
Diskusi komunitas yang sudah berlangsung selama tiga kali ini dihadiri oleh berbagai guru dari 10 TK Aisyiyah, di antaranya TK Aisyiyah 12, TK Aisyiyah 8, TK Aisyiyah 17, TKAisyiyah 20, TK Aisyiyah 24, TK Aisyiyah 19, TK Aisyiyah 22, TK Aisyiyah 14, TK Aisyiyah 16, dan TK Aisyiyah 9. Para guru ini berkumpul bersama untuk memperjuangkan hak hidup mereka yang lebih baik.
Dalam diskusi komunitas yang dilakukan beberapa kali ini, komunitas diskusi yang didampingi oleh MAARIF Institut ini mencoba menanamkan kesadaran sosial di antara para guru ini, yakni untuk memperjuangkan kesejahteraan yang menjadi hak mereka bersama. "dengan adanya diskusi semacam ini, kami mencoba memberi ruang bagi para guru TK ini untuk menyalurkan aspirasi mereka, " tutur Adi.
PD Aisyiyah kota Bandung, yang selama ini memayungi keberadaan TK Aisyiyah dan Ikatan Guru Bantu Aisyiyah (IGB) di wilayah kota Bandung, tidak mampu memproteksi hak-hak yang seharusnya diperoleh para guru bantu ini. Dewi, salah seorang guru bantu menyatakan, "selama ini kami menerima honor dibawah UMR, berbagai pemotongan terhadap honor yang kami terima terjadi sudah sejak lama."
" Para oknum pemerintah sering melakukan pemotongan terhadap honor yang seharusnya kami terima, itupun diberikan dalam jangka waktu 6 bulan sekali, " lanjut Dewi. Pemotongan ini terjadi karena lemahnya sistem kontrol kebijakan dari pemerintah itu sendiri, dalam hal ini oleh Dinas Pendidikan setempat.
Dengan adanya diskusi komunitas ini, diharapkan dapat menjadi dorongan bagi organisasi Aisyiyah yang berfungsi sebagai partner (rekan kerja) pemerintah, agar mampu memperjuangkan tuntutan para guru bantu swasta ini ke pihak pemerintah. Sehingga kesejahteraan para guru bantu bisa lebih meningkat, tanpa ada pemotongan honor lagi.
Dikotomi Guru PNS dan GuruSwasta
Tuntutan utama para guru ini salah satunya adalah menghilangkan dikotomisasi antara guru swasta dan guru PNS. Bagi mereka, selama ini perlakukan dan perhatian Pemerintah masih sangat diskriminatif bagi para guru swasta. Para guru yang berada di bawah payung Aisyiyah ini sangat merasakan diskriminasi yang dilakukan oleh Pemerintah terhadap mereka.
Yuningsih, sebagai salah satu fasilitator dan juga guru TK Aisyiyah menyatakan, para guru yang mengajar di sekolah swasta itu sangat tipis mendapatkan peluang untuk diangkat menjadi PNS, karena pemerintah mengutamakan guru-guru yang telah mengabdi di sekolah-sekolah negeri.
Ia menambahkan, bahwa diskriminasi dalam pendidikan merupakan pelanggaran hakasasi manusia. "Tokoh-tokoh pendidikan di manapun menentang diskriminasidan praktisi pendidikan selalu dijauhkan dari elemen anti diskriminasi, "sambung dia.
Seharusnya tidak ada diskriminasi antara guru PNS dan guru non-PNS. "kami sama-sama mengajar dengan guru-guru PNS. Seharusnya pemerintah juga memperhatikan kesejahteraan kami," begitu tegas Yuningsih
Walaupun status guru swasta dan guru PNS berbeda, namun tugas utamanya sama, yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik serta harus membuat rencana pengajaran setiap akan melaksanakan tugasnya di depan kelas. Dalam hal tugas, tidak ada bedanya antara guru yang bergaji besar (PNS terlebih lagi yang sudah sertifikasi) dengan guru yang bergaji dibawah UMR. Entah mengapa gajinya berbeda tetapi tugasnya harus sama.
Kenyataan di lapangan, banyak guru swasta yang memiliki dedikasi dan loyalitas pada pekerjaan diatas guru PNS. Sebagian (tentu tidak semua) guru PNS karena merasa sudah tahu pasti gajinya, malah menjadi asal-asalan dalam melaksanakan tugas.Dedikasi dan loyalitas menjadi mengendur dan meluntur. Lebih parah lagi ada yang menyerahkan tugasnya pada guru swasta.
Begitu pula pada saat sertifikasi guru, yang bisa disertifikasi hanya guru PNS dan guru tetap yayasan. Sementara guru swasta hanya bisa gigit jari melihat rekan-rekannya berlomba lomba mengikuti seminar dan workshop demi mengejar sertifikat yang akan digunakan untuk mempertebal berkas portofolio. Entah apa alasannya yang disertifikasi (yang akan ditambah gajinya) hanya guru yang PNS yang nota bene gajinya sudah lebih baik, sementara guru swasta dengan gaji kecil justru ditelantarkan. Padahal tugas dan kewajiban mereka sama.
Kondisi semacam ini sepatutnya menjadi perhatian para pembuat dan penentu kebijakan dalam dunia pendidikan. Jangan sampai mereka diihathanya dengan sebelah mata. Kemajuan pendidikan juga tidak lepas dari jerih payah, kerja keras mereka. Jika gaji belum bisa disamakan dengan alasan anggaran, setidaknya hargai mereka, beri mereka kesempatan yang sama seperti guru-guru yang lain. Semoga pendidikan di Indonesia semakin baik dengan tanpa ada diskriminasi.(DRZ)
Senin, 18 Mei 2009
Rabu, 15 April 2009
Merakit Sepeda
| Bandung - Anda hobi bersepeda? Jika anda berniat untuk membeli sepeda baru atau baru memulai aktivitas bersepeda, jangan langsung memutuskan. Untuk kepuasan, kenapa tidak mencoba membeli sepeda rakitan yang komponennya hasil pilihan sendiri. Datang saja ke Folker, Jalan Burangrang No 3. Di sini anda bisa memilih berbagai macam sepeda dari mulai yang sudah jadi sampai komponen-komponen sepeda yang siap untuk dirakit. Folker siap membantu untuk merakitkan sepeda baru anda. Agus Zaelani (32), seorang perakit sepeda di Folker mengatakan dengan merakit sendiri memang memberikan kepuasan yang lebih. "Kadang-kadang kalau beli jadi ada komponen yang kurang disukai tapi rakitan bisa memilih komponennya sesuai dengan selera," ucap Agus. Lamanya waktu merakit biasanya antara 2-4 jam. Jika komponen-komponennya sudah jadi dan tinggal pasang, hanya membutuhkan waktu dua jam. Tapi jika ada bagian komponen yang harus dirakit kembali bisa menghabiskan waktu sampai 4 jam. "Tapi tidak semua buat rakitan jika ingin praktis banyak yang beli sudah jadi," ujar Agus. Pilih sepeda sesuai Keinginan. Jika sudah mantap untuk membeli, sebaiknya konsultasikan dulu, sepeda seperti apa yang cocok dengan keinginan anda. Sebab sepeda ternyata memiliki beberapa jenis yang disesuikan dengan medannya. Sepeda diklasifikasikan jadi dua yaitu mountain bike dan road bike. Mountain bike atau sepeda gunung ini banyak digunakan di medan-medan yang memiliki kecuraman dan tingkat keterjalan seperti di gunung. Mountain bike juga dibagi menjadi beberapa macam ada downhill, croos country, free ride, dan all mountain. Perbedaan jenis-jenis sepeda itu terletak pada geometri batang atau rangka sepeda dan panjang pendeknya suspensi. Downhill adalah sepeda yang digunakan khusus untuk medan turunan sehingga memiliki suspensi paling panjang dibandingkan jenis mountain bike lainnya. Komponen dan materialnya lebih berat dibandingkan jenis sepeda gunung lainnya. Biasanya pemain downhill akan menggunakan kendaraan untuk naik gunung, barulah dari atas menuruni gunung menggunakan sepeda jenis downhill. Cross country. Jenis ini menurut Agus paling cocok untuk pemula karena bobotnya relatif paling ringan. Bisa digunakan di jalan raya juga off road tapi tidak bisa digunakan di medan-medan yang lebih ekstrim. Paling hanya sebatas lompatan kecil (bunny hop). "Kalau croos country digunakan untuk muter-muter kampung," tutur Agus yang juga atlet cross country ini. Jenis mountain bike ketiga adalah freeride, yang cocok digunakan untuk adventure. Free ride termasuk golongan all mountain, tapi memiliki suspensi yang lebih kekar. Nah kalau mountain bike jenis all mountain bisa digunakan untuk medan yang lebih ekstrim lagi, setingkat lebih tinggi dari jenis free ride. Bisa digunakan di bebatuan terjal dan bebatuan lepas dengan kecepatan relatif tinggi. Terakhir adalah Road Bike, yang digunakan khusus di jalan raya. Jenis ini tidak memiliki suspensi sehingga unggul di kecepatan. Jika sudah menentukan pilihan siap-siap saja dengan uangnya. Ternyata harga-harganya mahal juga. Untuk jenis all mountain bisa mencapai 70-80 jutaan. Paling murah adalah croos country yang bisa dibeli dengan harga 4 jutaan. Untuk road bike, harganya berada di kisaran Rp 10 jutaan. Tapi jika merakit sendiri menurut Agus disesuaikan dengan budget pembeli. Tinggal mantapkan saja pilihan anda. Selamat bersepeda! (ema/ern) |
http://bandung.detik..com/read/2009/04/01/073911/1108182/681/merakit-sepeda-sendiri-yuk


